Selamat Jalan, Nenek…

30 May 2011

Jadi ini yg namanya sendiri, sepi. Aku di alam ini, nenek di alam lain. Aku setia temani. Selalu dengan do’a & dzikir


Puisi di atas aku buat di twitter dengan perasaan yang sangat sedih, ketika aku ditinggal nenekku tercinta. Aku betul-betul tidak menyangka karena sebelumnya keadaannya membaik setelah beberapa hari dirwat di Rumah Sakit Puri Cinere.

Terlalu banyak ceritaku dan nenekku, karena aku tumbuh bersama beliau. Hubungan kita memang sangat dekat. Almarhumah sudah seperti mama ke-2 untukku. Bahkan sampai kemarin, aku masih tidur dan bermanja-manja dengan almarhumah.

Betul aku bergelimang duka hari ini. Kulekatkan kening di permukaan sajadah, mengumbar air mata. Hari ini biarkan aku bersedih


Di hari itu, aku menikmati kesedihanku. Biarlah Karena keesokan harinya aku tidak boleh menangis lagi. Aku harus rela. Insya Allah nenekku mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Akupun tidak ingin menangis di kuburnya, karena hal itu tidak diperbolehkan oleh agama dan tentunya sangat tidak layak.

Yang akan terus aku lakukan adalah berdoa untuk almarhumah dan meneruskan pelajaran-pelajaran yang telah diajarkan padaku. Seperti kalau berbicara harus ada aturannya. Berbicara dengan orang tua harus berbeda dengan berbicara dengan kawan.

Selain itu, almarhumah selalu mengajarkan aku menjadi perempuan yang kuat tanpa melupakan kodratku sebagai perempuan. Harus tahan banting dalam mengejar karir tapi tidak lupa akan keluarga. Almarhumah tidak mengajarkan aku untuk menjadi perempuan cengeng yang sedikit-sedikit mengomel, sedikit-sedikit minta tolong. Harus kuat dan harus punya solusi untuk semua.

Terima kasih untuk semua pengalaman yang kau ajarkan, Nek. Insya Allah nanti kita bertemu lagi.

Innalillahi wainailaihi radjiun.



TAGS indah dewi pertiwi idp Keci Music nenek ceritaku


-

Author

Follow Me